Senin, 06 Oktober 2014

Pangan Lokal Ini bernama Kacunda

RHD. Kacunda (Maranta arundinacea) menjadi bagian dari kisah indah masa kecil dengan tanaman. Berburuh umbi Kacunda (Makassar), membersihkan lalu merebusnya merupakan kegiatan sela ketika bermain dengan keluarga atau teman-teman. Tumbuhan ini tumbuh di pekarangan, di tepi tegalan, atau hutan-hutan kecil di perkampungan. Lazimnya berumpun di areal terbuka atau di bawah rindang tanaman lain, akan lebih lebat dan hijau pada musim hujan.

Kacunda merupakan tumbuhan terna dari keluarga Marantaceae. Garut merupakan nama lain tumbuhan ini, dapat ditemukan dihampir seluruh pulau di Indonesia. Di Maluku Utara dikenal dengan nama peda-peda, di Sulawesi Utara disebut labia walanta atau tawang, di Sumatera Utara dikenal dengan nama sagu rarut.

Secara umum bentuk tanaman ini memiliki ciri batang tegak bercabang menggarpu, tinggi antara 30 hingga 110 cm. Rimpangnya lunak dan membengkak, berdaging, keputih-putihan hingga kemerahan, dengan sisik daun putih kemerahan. Daun bertangkai panjang, berpelepah pada pangkalnya dan menebal, dengan helaian bentuk lonjong atau bundar telur melonjong berujung runcing. Kacunda memiliki bunga warna putih majemuk dalam malai terminal (di ujung batang), zigomorfik. Buah melonjong, merah tua, gundul kadang sampai berambut.

Umbi merupakan bagian tumbuhan yang dikonsumsi, sebagai sumber pangan alternatif baik pada musim paceklik maupun ketika pangan utama sedang melimpah. Umbinya direbus setelah dicuci dengan rasa yang kenyal mengandung banyak serat menjadikan Kacunda salah satu makanan populer bagi warga. Pengalaman ini juga pada umumnya dirasakan warga sekitar Rumah Hijau Denassa (RHD) sekitar 30-20 tahun silam. Sekarang mereka yang berusia 5-20 tahun sudah jarang yang masih mengenal tumbuhan ini.

RHD. Kacunda atau Garut (Maranta arundinacea) ditanam pada bedeng bersama beberapa pangan lokal lain di Rumah Hijau Denassa (RHD).
Kacunda atau Garut (Maranta arundinacea) ditanam pada bedeng bersama beberapa pangan lokal lain di Rumah Hijau Denassa (RHD).

Kacunda (Garut) telah kami tanam di RHD sejak 2007 silam, tumbuh dengan baik di bawah pohon jati, dekat batang Tammate, dan tumpang sari dengan Markisa dataran. Pada Mei 2014 lalu kami coba coba tanam dalam bentuk bedengan, Kacunda di Bontonompo belum pernah saya lihat ditanam dalam bedeng. Uji coba ini untuk mengetahui umbi yang dihasilkan (besar, jumlah, dan rasanya. Usaha ini kami lakukan untuk memperkenalkan kembali pangan lokal dan alternatif ini.

Akhir Agustus lalu kami memanen beberapa rumpun Kacunda yang ditanam untuk diolah, memakan segar sudah lazim karena itu kami coba membuatnya jadi tepung. Dari empat rumpun yang dipanen berhasil mengumpulkan tiga kilogram Kacunda basah yang telah dibersihkan. Untuk uji coba pengolahan satu kilogram kami langsung giling dengan mesin pengiling hasilnya kurang memuaskan karena serat umbi mendominasi hasil pengolahan sedangkan tepung yang dihasilkan sangat sedikit. Cara kedua kami iris-iris umbinya lalu dijemur selama empat hari, dari dua kilogram Kacunda basah kami berhasil memperoleh tujuh ons kacunda kering. Jumlah ini sama dengan tepung hasil gilingan. Tepung yang dihasilkan Kacunda kering bertestur lembut dengan warna coklat muda. Tepungnya dapat menjadi pengganti terigu, dibuat ongol-ongol dan berbagai kebutuhan lain.
* * *
Ragam Tanaman

Kacunda memiliki lebih dari satu kultivar atau ragam yang berbeda, khususnya pada warna daunnya. Corak daun hijau penuh merupakan ragam yang sering ditemukan dan dikonsumsi sejak lama, sedangkan ragam daun berwarna hijau kombinasi putih, hijau muda bergaris, lazimnya dijadikan sebagai tanaman hias. (Darmawan Denassa)

Daftar Pustaka:

1) http://id.wikipedia.org/wiki/Garut_(tumbuhan)

2) http://www.4shared.com/web/preview/doc/qBrqOPEt